Gempa M 7,5 di Jepang Lukai 30 Orang, KBRI Pastikan WNI Aman
peduliwni.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,5 mengguncang wilayah Jepang bagian utara pada Selasa (9/12). Pusat gempa berada di lepas pesisir Prefektur Aomori dan terasa kuat hingga wilayah Hokkaido. Akibat peristiwa ini, sedikitnya 30 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Meski begitu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban.
Guncangan kuat juga memicu gelombang tsunami setinggi hingga 70 sentimeter di beberapa kawasan pesisir. Otoritas Jepang langsung mengeluarkan peringatan dan meminta warga menjauhi pantai untuk sementara waktu.
Dampak Gempa di Aomori dan Hokkaido
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyampaikan bahwa korban luka berasal dari sejumlah wilayah terdampak, termasuk satu orang yang mengalami cedera serius di Pulau Hokkaido. Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang mencatat sebagian besar korban mengalami luka ringan akibat terjatuh atau tertimpa benda saat gempa terjadi.
Rekaman dari lokasi memperlihatkan dampak kerusakan yang cukup nyata. Retakan besar muncul di beberapa ruas jalan, bahkan ada satu mobil yang terperosok ke dalam lubang akibat amblesan tanah. Pecahan kaca dari jendela bangunan juga berserakan di jalan dan trotoar, menambah risiko bagi warga yang beraktivitas di luar rumah.
Awalnya, sempat beredar laporan adanya sejumlah kebakaran pascagempa. Namun, juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, mengklarifikasi bahwa hanya satu kebakaran yang terkonfirmasi, yakni di sebuah rumah di wilayah terdampak.
Kesaksian Warga, Guncangan Terasa Sangat Kuat PK
Di Hokkaido, seorang reporter AFP melaporkan bahwa tanah berguncang hebat selama sekitar 30 detik. Alarm peringatan gempa dari ponsel warga berbunyi serentak, menandakan tingkat bahaya yang tinggi.
Daiki Shimohata (33), seorang pegawai negeri yang tinggal di Hashikami, Prefektur Aomori, menceritakan pengalamannya saat gempa terjadi. Ia mengatakan guncangan kali ini terasa berbeda dan jauh lebih kuat dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.
“Guncangannya belum pernah kami rasakan sebelumnya. Mungkin berlangsung sekitar 20 detik,” ujarnya. Dalam kondisi panik, Daiki dan keluarganya langsung bergegas keluar rumah sambil menggendong kedua anaknya yang masih balita. Ia mengaku gempa tersebut mengingatkannya pada bencana besar Jepang tahun 2011.
Puluhan Ribu Warga Mengungsi, Listrik Sempat Padam
Layanan darurat Jepang melaporkan sekitar 28.000 warga diminta untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sejumlah media lokal menyebutkan beberapa lokasi pengungsian darurat sempat penuh, terutama di wilayah yang dekat dengan pusat gempa. Situasi makin menantang karena gempa terjadi saat Jepang sedang menghadapi musim dingin.
Suhu udara di beberapa wilayah mendekati titik beku, sehingga pengungsian menjadi lebih berat, terutama bagi anak-anak dan lansia. Selain itu, sekitar 2.700 rumah di Prefektur Aomori sempat mengalami pemadaman listrik. Namun, pada Selasa pagi, pasokan listrik sudah dipulihkan di sebagian besar wilayah. Penyedia layanan listrik melaporkan kurang dari 40 rumah yang masih belum teraliri listrik.
KBRI Tokyo Pastikan WNI Selamat
Di tengah situasi darurat tersebut, KBRI Tokyo memastikan kondisi WNI di Jepang relatif aman. Berdasarkan data KBRI, terdapat sekitar 969 WNI yang tinggal di wilayah pusat gempa dan sekitarnya, termasuk di Prefektur Aomori. “Hingga Selasa, 9 Desember 2025, pukul 08.30 JST, belum terdapat laporan WNI yang menjadi korban,” demikian pernyataan resmi KBRI Tokyo.
Meski tidak ada laporan korban, KBRI tetap mengimbau WNI agar meningkatkan kewaspadaan. WNI diminta terus memantau informasi resmi dari pemerintah Jepang, memahami rute evakuasi, serta menyiapkan tas darurat yang berisi dokumen penting dan uang tunai secukupnya. KBRI juga mengingatkan agar WNI segera menghubungi hotline jika membutuhkan bantuan.
Baca juga: Lolos Seleksi Kerja di Luar Negeri, Tapi Gaji Gak Sesuai? Ini Kenapa Itu Bisa Terjadi!
Transportasi dan Fasilitas Vital Tetap Aman
Gempa sempat berdampak pada layanan transportasi. Beberapa jalur kereta cepat Shinkansen di hentikan sementara untuk pemeriksaan kondisi rel. Langkah ini di lakukan sebagai upaya pencegahan guna memastikan keselamatan penumpang.
Sementara itu, operator Tohoku Electric Power memastikan tidak di temukan kelainan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Higashidori di Aomori maupun fasilitas Onagawa di Prefektur Miyagi. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada kebocoran atau gangguan sistem.
Pemerintah Jepang Imbau Warga Tetap Waspada
Perdana Menteri Sanae Takaichi mengingatkan masyarakat agar tetap siaga dalam beberapa hari ke depan. Ia meminta warga mendengarkan informasi dari Badan Meteorologi Jepang (JMA) dan pemerintah daerah, serta memeriksa keamanan perabotan di rumah.
“Tolong bersiap untuk mengungsi jika merasakan guncangan, dan tetap waspada selama sekitar satu minggu ke depan,” ujar Takaichi. Dengan potensi gempa susulan yang masih ada, kewaspadaan menjadi kunci. Bagi WNI di Jepang, mengikuti arahan otoritas setempat dan imbauan KBRI menjadi langkah penting untuk tetap aman di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.



